Selain asal daerahnya, sejarah ketoprak juga menarik untuk dikaji dari sisi penamaannya. Ada beberapa versi cerita yang berkembang di masyarakat.
Versi pertama menyebutkan bahwa nama “ketoprak” merupakan singkatan dari “ketupat” dan “toge” yang “digeprak” atau dicampur menjadi satu. Istilah ini menggambarkan cara penyajian ketoprak yang sederhana namun khas.
Sementara itu, versi lain yang cukup populer menyebutkan bahwa nama ketoprak berasal dari suara “ketuprang” yang muncul ketika sebuah piring jatuh ke lantai. Konon, seorang penjual makanan secara tidak sengaja menjatuhkan piring saat mencoba menciptakan hidangan baru. Dari suara tersebut, ia kemudian terinspirasi untuk menamai makanan buatannya sebagai “ketoprak”.
Cerita ini mungkin terdengar sederhana, namun justru menjadi bagian dari daya tarik sejarah ketoprak yang penuh dengan unsur folklor dan kreativitas masyarakat.
Komposisi dan Keunikan Ketoprak
Ketoprak sering disebut sebagai “tofu salad” dalam referensi internasional seperti TasteAtlas. Hidangan ini terdiri dari berbagai bahan, seperti tahu goreng, ketupat atau lontong, bihun, tauge, kol, dan mentimun yang kemudian disiram dengan saus kacang dan kecap manis.
Sebagai pelengkap, ketoprak biasanya ditaburi bawang goreng dan disajikan dengan kerupuk. Dalam beberapa variasi, ditambahkan telur rebus atau telur dadar sesuai selera.
Keunikan ketoprak terletak pada kesederhanaan bahan yang diolah menjadi hidangan dengan rasa kompleks—gurih, manis, dan sedikit pedas. Selain itu, sebagian besar bahan ketoprak berbasis nabati, sehingga pada dasarnya hidangan ini bisa dikategorikan sebagai makanan vegan, kecuali jika ditambahkan telur.